Pintu dan jendela tertutup rapat. Beruntung aku memiliki kunci cadangan kamarnya. Saat kubuka, bau anyir darah menyeruak keluar kamar, melepaskan diri dari kungkungan kamar dengan lampu temaram ini.
Ia duduk di atas kasur, bersandar pada tembok kamar, sedikit miring. Tangan kirinya lunglai jatuh menyentuh lantai sedangkan yang kanan memegang sebuah pisau dapur. Aku tak histeris.
Hanya sesak. Mengapa sekarang? Di samping tubuhnya ada secarik kertas. Aku tahu, ini pesan dari kematiannya.
“Jangan bilang aku pengecut karena mengakhiri hidup. Justru aku sangat berbahagia atas hidupku. Aku telah lahir tanpa kemauan diri, maka untuk urusan mati aku yang akan memutuskan. Kematian merupakan ketakutan terbesar dalam diri manusia, sadar atau tidak sadar. Hanya sedikit orang yang tidak takut menghadapi kematian. Hari ini aku ingin membuktikan kepada diriku sendiri, bahwa ketakutan itu tak menggerogoti diri ini. Sekali lagi, jangan bilang aku pengecut. Aku mohon, jangan bersedih dan menangis karena kematianku. Karena ini yang aku inginkan dan aku bahagia.”
Aku membetulkan letak tubuhnya, menjauhi pisau darinya, memeluknya dan mengecup keningnya. Selamat berbahagia adikku sayang.